Kamis, 31 Oktober 2013

Puisi tentang Hewan: Pussy Seputih Awan

Pussy Seputih Awan
Sudah setahun aku pelihara Pussy
Sudah setahun aku rawat Pussy
Aku selalu sayang Pussy
Aku selalu cinta Pussy

Pussy kucing termanis yang pernah kupelihara
Bulunya lembut, telinganya mungil
Pussy kucing terlucu yang pernah kumiliki
Tingkahnya lincah, meongan-nya lantang

Setiap pagi Pussy kuberi susu
Setiap siang Pussy kuberi ikan
Setiap malam Pussy kuberi nasi dan ikan
Pussy memang gembul!

Suatu pagi Pussy kupanggil, "Pussy!"
Tak ada jawaban
Ternyata Pussy tidur
Maka segera kubangunkan

Tapi kenapa Pussy tak mau bangun?
Kenapa Pussy tak kunjung buka mata?
Pussy, bangunlah!
Pussy, ada susu untukmu!

Pagi itu aku amatlah sedih
Mengapa Pussy pergi?
Saat kutatap langit, ada awan berbentuk Pussy
Warnanya seperti bulu Pussy yang lembut

Pussy, kau seputih awan!
Selamat jalan, Pussy!

Puisi tentang Persahabatan: Terimakasih Sahabat

 Terimakasih Sahabat
Sahabat,
Segalanya telah kita lalui bersama
Senang, sedih
Selalu kita jalani berdua
Gembira, susah
Selalu kita hadapi bersama
Tak kenal lelah, saling membantu
Tak kenal waktu, saling mengerti

Sahabat,
Selalu kau dengarkan bicaraku
Selalu kau pahami perasaanku
Entahlah ...
Kau selalu buatku tenang
Kau selalu buatku nyaman
Hilanglah dukaku bila kau di sisiku

Sahabat,
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu
Kini saatnya kita tuk berpisah
Semua kenangan indah ini kan selalu kukenang
Kuharap kau juga akan mengenangnya

Sahabat, 
Aku pasti akan merindukanmu
Aku pasti akan merasa sangat kehilangan
Maka janganlah kau lupakan aku
Karena aku juga akan mengingatmu selalu

Terimakasih Sahabat...
***
Puisi ini iseng-iseng aja bikinnya. Maaf ya kalau jelek :)

Kamis, 24 Oktober 2013

Animasi Bergerak Power Point: Kucing




 Cara Download animasi ini gampang kok:

  • Klik kanan pada animasi
  • Pilih option Save Image As... atau Simpan Gambar Sebagai...
  • Setelah muncul kotak dialog, tentukan tempat atau folder untuk menyimpan
  • Klik save


Selasa, 22 Oktober 2013

The Talking Vegetables


       Teng teng teng..., bel berbunyi tiga kali menandakan waktunya istirahat. Selena mengeluarkan kotak makannya dari tas. Hoaaahm..., siang itu Ia merasa sangat mengantuk. Setelah Ia buka kotak makanan itu, Selena mendapati dua potong pizza di dalamnya. Segera saja Ia makan pizza yang terlihat sangat menggiurkan itu. Tapi, sebelum pizza itu masuk ke dalam mulutnya, tiba-tiba saja ada suara di dekat Selena.
                “Hei! Kenapa kamu terus memakan makanan cepat saji itu! Sedangkan kamu tak pernah memakan kami, para sayur-sayuran! Bukankah kami lebih menyehatkan?” Suara itu sangat asing di telingan Selena.
               “Uh siapa itu?” Selena menengok ke sebelah kanan dan Ia mendapati sebuah brokoli tengah menatap tajam ke arahnya. Tapi tunggu dulu, sejak kapan Brokoli bisa punya mata dan mulut sehingga bisa berbicara? Apalagi Brokoli itu terus menegur Selena dengan alasan karena Selena terus memakan makanan cepat saji. Dasar “Brokoli Pemarah”!
                Selena yang masih heran dan terkejut hanya bisa diam mematung dengan terbengong-bengong menatap Brokoli aneh itu. Dan tiba-tiba saja muncul lebih banyak sayur-sayuran lainnya. Ada wortel, cabai, buncis, kubis, timun, dan masih banyak lagi. Mereka semua juga memiliki mata, hidung, dan mulut. Sayur-sayuran aneh itu terus menatap tajam ke arah Selena.
                Lalu, brokoli pemarah yang sejak tadi terus menceramahi Selena, berkata dengan lantang, “Hei, Selena! Jika kamu tidak mau memakan kami, kami tidak akan segan-segan untuk membakar rambutmu! HAHAHAHAHA.” Dibarengi juga dengan sayur-sayuran lainnya yang menggerutu dan terus mendekat ke arah Selena, “Makan kamiii... makan kamiii... .”
                Selena yang merasa ketakutan kemudian berkata, “Ampuuun ...! Aku berjanji akan memakan kalian dan tidak akan memakan makanan cepat saji lagi. Asal jangan bakar rambutku.”
                Sayur-sayuran itu terus melompat-lompat ke arah Selena dengan membawa obor serta sekop. Mereka seakan tidak menggubris perkataan Selena. Selena pun berteriak, “AAAAAAA!!!”
               “Selena! Selena! Bangun!” teriak Zave, teman sebangku Selena seraya menggoyang-goyangkan badan Selena yang telungkup di atas meja. “Hei, bangunlah! Kenapa kamu berteriak? Pasti kamu bermimpi buruk kan?”
                Selena terbangun. “Uh, apakah tadi aku bermimpi?”